Kamis, 24 Mei 2012

Merakit Sepeda Balap

Berawal dari kegemaran bersepeda tiap minggu pagi, mendorong keinginan penulis untuk kembali memiliki sebuah sepeda. Setelah beberapa waktu yang lalu selesai merakit sebuah MTB, kali ini pilihan jatuh pada sebuah sepeda balap, atau lebih keren sering disebut roadbike, sebuah sepeda dengan spesifikasi untuk berkendara di lintasan jalan raya atau velodome, dengan rangka yang berkesan langsing dan tinggi, serta memiliki diameter roda yang besar (+- 27") namun tetap kokoh untuk dikendarai.

Setelah hunting, tanya kesana kemari mencari sebuah sepeda balap yang murah (mengingat keadaan keuangan dan budget yang minim) untuk selanjutnya dipoles n reskonkruksi lagi. Akhirnya penulis memperoleh sebuah sepeda balap jadul murah dengan kondisi yang boleh dibilang agak memprihatinkan, walaupun sebenarnya masih tetap bisa dikendarai berkeliling kampung, nongkrong ke warung, bahkan ngapel ke rumah pacar. Sepeda balap yg sudah penuh karat di sana - sini, sehingga susah dikenali lagi apa merknya. Stang original yang seharusnya model dropbar sudah diganti dengan flatbar layaknya sepeda MTB, bahkan engkol juga tergantikan dengan kepunyaan MTB. Begitu juga dengan levers, rear derailure dan tentu saja handle rem.

Langkah pertama penulis adalah mempreteli semua bagian hingga hanya tersisa rangka serta fork depan saja, lalu mengawali proses pengecatan dengan membersihkan cat lama dengan paint remover, lalu penyemprotan epoxy filler atau cat dasar dan membiarkannya beberapa hari agar benar benar kering, sembari memutar otak serta mencari reverensi untuk pewarnaan.

Setelah berpikir, merenung dan berpuasa pantang makan jengkol (karena kebetulan penulis gak doyan jengkol) akhirnya diperoleh untuk memakai warna ungu metalik, dengan perpaduan dengan warna putih. Untuk perpaduan dengan warna putih serta ide variasi tulisan diperoleh setelah mempelototi gambar sebuah sepeda Vigo cycles hasil comot dari dunia maya.


Selesai pewarnaan menggunakan warna ungu dan putih, serta sebelum akhirnya proses coating, proses selanjutnya adalah penempelan stiker "OnthelBalapZ", logo OBZ serta bodycopy sebuah slogan yang berbunyi "ngupoyo seger waras", yang sebelumnya telah dipersiapkan dengan berbagai pertimbangan.



Setelah semua selesai, lalu terakhir adalah perakitan. Stang penulis kembalikan seperti semula yaitu menggunakan dropbar, dengan pemanis berupa bebat imitasi warna ungu. Engkol, levers serta rear derailure juga diganti dengan milik sepeda balap. Terakhir sadel hitam dan uzur tergantikan degan warna putih bersih, sekaligus dengan seatpost (stok sadel).



Sedangkan roda tetap mempertahankan memakai roda lama untuk mempertahankan kesan sepeda klasik (karena roadbike saat ini memakai ban ukuran 700c). Dan akhirnya atribut plate club sepeda "Rukun Agawe Onthel" dipasang dengan manis di bagian bawah sadel.

 
...dan,

Tadaa........!
OnthelBalapZ siap melaju untuk Ngupoyo Seger Waras (mengupayakan segar n sehat) dan tetap ramah lingkungan...
Go Go Gowes....!

»»  READMORE...

Rabu, 02 Mei 2012

Apa Guna Maaf Jika Terus Mengulang Kesalahan Yang Sama?

Apa Guna Maaf Jika Terus Mengulang Kesalahan Yang Sama? Mudah buat setiap orang meminta maaf. Cukup dengan 1 kata, "maaf" atau "maafkan aku" atau "maaf ya" seolah semua masalah selesai, beres, sampai disini. Untuk memberi maaf pun sangat mudah. Cukup dengan "ya, saya maafkan" atau kalimat lain yang serupa. Namun, apa esensi dari maaf itu sendiri? Meminta maaf berarti mengetahui kesalahan yang dilakukan, dan berjanji memperbaikinya atau tidak akan mengulanginya lagi . Ketika kita meminta maaf pada seseorang, maka seharusnya kita telah paham benar apa kesalahan yang telah kita lakukan. Percuma jika minta maaf tanpa tahu kesalahannya. Kata maaf itu hanya seperti sebuah celengan kosong atau kartu ATM tanpa rekening. Terlihat berharga dari luar namun tak ada isinya, dan tentu saja tak ada gunanya. Tanpa tahu apa kesalahannya, meminta maaf juga tak ada artinya karena tidak ada komitmen dari diri sendiri untuk memperbaiki atau tidak mengulangi kesalahan yang sebenarnya. Sekarang minta maaf, besok, atau bahkan nanti, dilakukan lagi. Orang yang dimintai maaf pun lama-lama akan jenuh dan kepercayaannya terhadap si peminta maaf akan terkikis, dan lama-lama habis. Persis seperti erosi yang melongsorkan dan menumbangkan pepohonan sumber oksigen yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Lalu bagaimana agar tahu kesalahan yang telah membuat orang lain marah, kecewa, atau bahkan tersakiti? Bagaimana agar kata maaf tidak hanya sebuah bejana tanpa sesuatu ditampungnya? Kita harus sering berinterospeksi. Bercermin diri. Lebih baik merasa rendah hati daripada tinggi hati. Lebih baik merasa diri ini selalu kurang sempurna daripada merasa terlalu sempurna. Dengan begitu jika ada indikasi bahwa kita telah melakukan hal yang tidak benar, maka segeralah melirik pada diri sendiri : Apa yang telah kulakukan? Apa yang salah? Dimana kesalahannya? Siapayang kena dampaknya? Apa efeknya? Apa yang mereka rasakan terhadap kesalahan yangtelah kuperbuat? Ketika pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, tahu persis dimana perbuatan yang salah, dan berjanji, ini yang paling penting, berjanji bahwa tidak akan mengulangi kesalahan yang sama , barulah pantas kata maaf itu diucapkan. Sebagai manusia tentu tidak bisa menjamin benar2 telah menghindari kesalahan dan sama sekali tidak melakukannya lagi. Memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Yang terpenting adalah, niat, kemauan dan komitmen untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Niscaya, kata maaf akan seberharga kotak metal dengan setumpuk rubi dan berlian didalamnya.
»»  READMORE...

Jangan Mengulang Kesalahan yang Sama

Jangan Mengulang Kesalahan yang Sama




ِّﻰِﺒَّﻨﻟﺍ ِﻦَﻋ َﺓَﺮْﻳَﺮُﻫ ﻰِﺑَﺃ ْﻦَﻋ-ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ-َﻝﺎَﻗ»ْﻦِﻣ ُﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ُﻍَﺪْﻠُﻳ َﻻ

ِﻦْﻴَﺗَّﺮَﻣ ٍﺪِﺣﺍَﻭ ٍﺮْﺤُﺟ.«ﻪﻴﻠﻌﻘﻔﺘﻣ



Artinya:"Abu Hurairah radhiyallahu'anhu berkata:"Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wasallam bersabda:"Seorang yang beriman tidak terperosok di satu lubang yang sama dua kali (Muttafaqun'alaih)







Pelajaran dari hadits ini:





1. lafazh hadits ini dalam bentuk kabar berita, tetapi maknanya adalah larangan, maksudnya adalah orang yang beriman yang cerdik dan pandai, tidak boleh lengah sehingga masuk ke dalam suatu kesalahan dua kali dan dia tidak menyadarinya .



2. Hadits ini bisa juga bermakna peniadaan, maksudnya adalah orang yang beriman yang pandai tidak akan pernah masuk terperosok ke dalam suatu kesalahan dua kali .



3.Kesalahan yang sama di dalam hadits ini, baik di dalam perkara agama ataupun dunia . Pelajaran 1-3 lihat kitab: Fath al Bari, karya Ibnu Hajar,10/530.



4. Seorang yang beriman jika melakukan perbuatan dosa maka hendaklah hatinya seperti orang yang disengat, tidak tenang dan tidak mengulangi ,sebagaimana yang dilakukan Nabi Yusuf'alaihissalam setelah keinginan beliau dengan Zulaikha, senantiasa beliau tidak berbicara dengan wanita sampai menutupi wajah beliau dengan penutup.

Lihat kitab: Faidh al-Qadir, karya al Munawi, 6/588.
»»  READMORE...